Posted by: budle | September 11, 2008

Facing the Candidats of President

I just read it, and I think it is a pity that I don’t spread it to others… Well, I’m not sure to translate it into English… Just read it… Good to be self-reflection’s source.

“Kalau kamu berusaha mencukupi kebutuhan orang lain, otomatis kebutuhan kamu pun tercukupkan. Percayailah hal itu,” tutur Ny Slamet, menirukan ucapan suaminya. “Saya ikuti saja apa kata suami, meski saya tak mengerti.”

——————————————————————————————-

HIDUP terkadang memang tak butuh pengertian. Dia hanya minta dijalani, tanpa tanya apalagi gugat. Karena kearifan diberikan kehidupan bukan melalui serangkaian teori dan abstraksi, melainkan praktek dan pengalaman. Lalu Slamet membuktikan hal itu. Di desanya, Dompu, di pedalaman Nusa Tenggara Barat, yang ada hanya kegersangan. Tanah membentang, tapi kering kerontang. Tak ada sumber air kecuali sebuah sungai besar berpagar bukit cadas, bermuara ke laut. Slamet selalu mendengar ricik itu, dan membayangkan arus air berbelok ke desanya, membasahi bentangan gersang ladang-ladang yang tak memiliki tuan. Tapi pembayangan adalah impian. Dan Slamet tak cukup puas dengan itu. “Saya lalu lubangi bukit, dan membelokkan arus sungai agar mengaliri tanah kami,” ceritanya.

Dalam tayangan “Balada di Balik Nama”, di Trans TV, Selasa pagi (29/7) itu, Slamet dan beberapa penduduk memulai kerja dengan linggis. Rekaman dengan gambar bergaris dan buram itu menunjukkan bagaimana tekad baja mampu merontokkan bukit padas. Bukit berlubang, air sungai pun bisa menerjang ladang. Slamet pun mulai menanam. Lebih dari 20 tahun dia merekayasa alam, dua kali dia belokkan arus sungai, membuat irigasi, dan membuka jalan tembus antardesa. Hasilnya, kini tak ada lagi tanah gersang. Sisi lembah di utara bukit padas itu, telah lama menjadi waduk buatan dengan ribuan ikan tanaman. Di genangan air itu, dia dirikan berbagai rumah apung untuk memancing. “Sekarang desa ini lebih dikenal sebagai tempat wisata,” ceritanya,  angga. Slamet memang layak bangga, karena dia berhasil “menyelamatkan” lebih dari 23 ribu hektar tanah di wilayahnya.

Slamet hanya orang biasa. Tubuh dan wajahnya hitam dan kering, dijilat matahari terlalu sering. Dalam tayangan itu, selama menunjukkan hasil karyanya, dia hanya bersandal jepit, berkaos dan bersarung. Tak ada nada bangga dalam tiap ucapannya. Meski semua kehijauan dan kemakmuran desa itu akibat kerja tangannya, Slamet selalu mengikutsertakan bantuan warga desa dalam tiap penegasannya. Tak ada niat pamer. Padahal, “Ya kalau dihitung, barangkali sudah menghabiskan puluhan miliar ya?”

Untuk kerja kerasnya itu, Slamet tak meminta apa pun, meski dia mendapatkan banyak rasa hormat dan kagum dari warga desa. Tokoh beberapa desa mengaku berhutang budi pada kerja Slamet. Dan dampaknya jelas, berkali-kali mereka mendesak Slamet untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Mereka yakin Slamet pantas dan pasti terpilih. Tapi Slamet menolak. “Modal saya cuma ikhlas, jujur, dan tawakal. Saya tidak cocok untuk berpolitik. Itu bukan tujuan saya,” elaknya.

——————————————————————————————-

HIDUP adalah perbuatan. Itulah moto iklan politik Soetrisno Bachir. Iklan manis dengan wajah riang anak-anak itu berkali-kali tayang di berbagai televisi. Soetrisno, ditemani istrinya yang sumringah menyapa dan tertawa bersama warga, mengajak untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa. Meski, di mata ahli komunikasi Effendi Ghazali, iklan itu tak jelas untuk apa. “Saya hanya jadi tahu ternyata istri Mas Soetrisno itu cantik ya? Tapi iklannya sendiri ingin mengatakan apa, saya tidak dapat menangkap. Kurang spesifik,” gugatnya dalam acara “Topik Kita” di Anteve, Minggu (17/8).

Soetrisno membalas ketakmengertian Ghazali itu dengan, “Saya kira, meski sudah doktor, tak ada salahnya ya, untuk rendah hati, mau belajar ilmu komunikasi dengan saya yang cuma lulusan S1.” Lalu Soetrisno menjelaskan makna iklan itu, bahwa hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang seperti apa? Di mana, dan siapa yang berbuat, juga untuk apa, memang tak terjelaskan. Iklan itu, tagline itu, tetap hanya menjadi moto, semboyan, abstraksi, logos, ilmu, dan bukan laku. Dalam iklan itu, “hidup adalah perbuatan” masih duduk sebagai predikat, tanpa subjek, juga objek. Dia tak sempurna.

Barangkali, Ghazali, seperti juga banyak pengamat lain, ingin bertanya, selain iklan itu, apakah “hidup adalah perbuatan” telah menjadi laku-lahir Soetrisno Bahir. Dan Soetrisno paham dengan hal itu, dan mengakui di berbagai forum, bahwa telah miliaran uang dia habiskan untuk membantu orang lain.

——————————————————————————————-

HIDUP adalah perbuatan, berbuat untuk bangsa. Dalam bahasa iklan politik Rizal Mallarangeng menjadi “Save Our Nations”. Berlanskap rumah pembuangan Bung Karno di Bandaneira, dengan aroma laut dan gairah persatuan, Rizal tampil sebagai sosok muda yang mengerti kebutuhan bangsa. “Save Our Nations” menjadi begitu indah dan nyaman didengar telinga. Kenyamaman yang memaksa John Pantau untuk bertanya kepada Rizal, berapa sebenarnya jumlah provinsi di Indonesia?

Rizal tampak tak nyaman dengan pertanyaan itu. Dalam tayangan “John Pantau” di TransTV, Minggu 817/8), wajahnya tak yakin ketika menjawab, “34.”

John Pantau terkikik, dan dengan gayanya yang selalu menggoyang-goyangkan tubuh dan biji mata, dia tertawa tak yakin. Rizal dapat membaca “ejekan” ketakyakinan itu, dan menambah dengan, “Pasti kamu belum tahu kan, provinsi yang terakhir masuk, yakni Sulawesi Barat.” John makin tertawa, tubuhnya kian bergoyang, “Sulawesi Barat yaaaa?”

Di layar, tertera tulisan, “Bukannya Sulawesi Barat telah jadi provinsi sejak 2004″. Rizal memang salah, sampai kini Indonesia baru memiliki 33 Provinsi. “34, kalau Singapura diikutkan,” kata Soetrisno Bachir di acara yang sama, tanpa bermaksud meledek Rizal, tentunya.

Rizal juga mengelak ketika diminta hanya menyanyikan refrain “Indonesia Raya”, karena “Saya kalau bernyanyi harus dari awal, sudah jadi kebiasaan.” Rizal tahu dia diuji, dan dia tak ingin salah lagi.

Padahal, tagline “Save Our Nations” Rizal menyimpan anomali dalam dirinya sendiri. Bagaimana menyelamatkan bangsa, jika Rizal adalah pawang utama yang mendukung liberalisasi harga BBM dan privatisasi BUMN, dan negosiator yang menyerahkan pengelolaan Blok Cepu ke Exxon Mobile.

——————————————————————————————-

HIDUP adalah perbuatan, berbuat untuk menyelamatkan bangsa. Barangkali, dibandingkan Soetrisno dan Rizal, hanya Lalu Slamet yang telah melakukannya. Lebih dari 20 tahun dia bekerja, membelah gunung dan membelokkan aliran sungai, tanpa bertanya apakah itu akan bermakna untuk bangsa, tanpa berpikir apakah “kegilaan” itu dilihat Indonesia. “Modal saya cuma ikhlas, jujur, dan tawakal. Saya tidak cocok untuk berpolitik,” katanya.

Lalu Slamet tahu, politik tak pernah menginginkan keikhlasan, kejujuran, dan ketawakalan. Karena politik dihidupkan oleh popularitas, uang, dan sebesar-besarnya kemunafikan. Dan kemunafikan adalah watak yang dihinggapi kemudahan untuk cidera janji, berkhianat, dan berbohong. Sayangnya, kebohongan terbesar acap kita temukan dalam iklan, –dalam arus kata-kata yang cuma duduk sebagai semboyan, dalam watak-peranan para aktris yang kini diundang ragam partai untuk berpolitik di senayan.

——————————————————————————————-

Hidup adalah kemunafikan. Indonesia sungguh tak bisa lagi diselamatkan. (= Life is a hypocrite;for God Sake, Indonesia is unsaveable)

Sumber dari sini :
http://rumahputih. net/2008/ 08/21/hidup- adalah-semoga- bukan-kemunafika n/


Responses

  1. nice post. bitter truth ha? :D

    yep… We just can’t get everything we need… But to know such irony…
    Guess, sumone’ll figure it out… *rolls

  2. Nice post…. action talks more than words ;)

    yes it does! :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.